KANDUNGAN VITAMIN C PADA CABAI DAN PRODUK OLAHANNYA SERTA METABOLISME VITAMIN C PADA TUBUH
KANDUNGAN VITAMIN C PADA CABAI DAN PRODUK OLAHANNYA
SERTA METABOLISME VITAMIN C PADA TUBUH
I.
PENDAHULUAN
Vitamin
C atau asam askorbat adalah salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh.
Vitamin C adalah vitamin turunan heksosa yang larut dalam air dan mudah
teroksidasi. Vitamin C berfungsi membantu proses metabolisme tubuh dan
pembentukan kolagen interseluler. Selain itu, vitamin C juga berperan sebagai
antioksidan yang kuat yang dapat melindungi sel dari agen-agen penyebab kanker
dan secara khusus mampu meningkatkan daya serap tubuh atas Kalsium serta zat
besi dari bahan makanan lain. Banyak makanan, khususnya sayuran dan buah-buahan
yang merupakan sumber vitamin C seperti jeruk, jambu biji, brokoli, cabai dan
masih banyak lagi.
Cabai
merupakan jenis tanaman yang banyak ditanam di Indonesia dan banyak dikonsumsi
oleh masyarakat. Cabai merah banyak mengandung banyak vitamin C . Selain itu,
cabai merah juga mengandung protein, lipid, serat, garam mineral (Ca, P, Fe,
K), vitamin (A, D3, E, C, K, B2, dan B12) dan
kapsaisin. Kelimpahan cabai di indonesia membuat harga cabai mengalami
fluktuasi yang tinggi. Saat musim panen banyak cabai yang rusak karena
jumlahnya melebihi kebutuhan masyarakat. Cabai merah memiliki daya simpan yang
sangat rendah karena mudah mengalami pembusukan. Penyebab utama kerusakan cabai
adalah karena kadar airnya yang tinggi. Oleh karena itu sudah banyak olahan
cabai yang dibuat untuk mengatasi kerugian petani saat cabai melimpah dan
harganya rendah. Contoh olahan cabai adalah cabai kering, manian cabai dan saus
cabai. Saat pengolahan cabai melalui beberapa proses seperti pencucian,
pengeringan dan pemanasan. Proses tersebut tentu mempengaruhi kandungan vitamin
C pada cabai karena vitamin C memiliki sifat mudah larut dalam air dan mudah
teroksidasi. Kerusakan vitamin C dipercepat oleh panas, sinar, alkali, asam,
ensim serta katalis Tembaga dan Besi.
Berdasarkan
pendahuluan tersebut, maka penulis akan mengkaji kandungan vitamin C pada cabai,
vitamin C pada produk olahan cabai dan metabolisme vitamin C sebagai
antioksidan dalam tubuh. olahan cabai dan metabolisme vitamin C sebagai
antioksidan pada tubuh.
II. METODE
PENELITIAN
Dari beberapa jurnal yang di review
ada beberapa metode yang digunakan dalam penenentuan kadar Vitamin C pada buah
cabai dan produk olahan Cabai. Metode tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Metode Pengujian Vitamin C
|
No
|
Penelitian
|
Metode Uji Vitamin C
|
Reference
|
|
1.
|
Quantification
of Capsaicin and Ascorbic Acid Content in Twenty Four Indian Genotypes of
Chill (Capsicum annuum L.) by HPTLC and Volumetric Method
|
Volumetric Method
|
Kalyani Pradhan, et.al (2018)
|
|
2.
|
Pengaruh
Suhu Dan Lama Penyimpanan terhadap Kandungan Vitamin C Dalam Cabai Merah (Capsicum
anuum. L) dan Aktivitas Antioksidannya
|
Spektrofotometer UV-Vis
|
Aqnes Budiarti dan Dyah Ayu Elisa
Kurnianingrum (2015)
|
|
3.
|
Optimasi
Suhu dan Waktu pada Proses Pengeringan Manisan Cabai Merah (Capsicum
annuum L.) menggunakan Tunnel Dehydrato
|
(tidak dicantumkan metode yang
digunakan)
|
Hisworo Ramdani dan Badru Tamam
(2018)
|
|
4.
|
Effect
of different pretreatments on dried chilli (Capsicum
annum
L.) quality
|
Titrasi Iodin
|
S B Anoraga,et.al (2018)
|
|
5.
|
Pengaruh
suhu dan lama perendaman terhadap mutu saos cabai kering
|
(tidak dicantumkan metode yang
digunakan)
|
Wan Bahroni Jiwar Barus dan Mhd.
Nuh (2019)
|
III. HASIL
DAN DISKUSI
3.1 Kandungan
Vitamin C pada Beberapa Varietas Cabai
Cabai
merupakan salah satu sumber vitamin C. Pradhan K, et.al (2018) melakukan penelitian
mengenai kandungan vitamin C pada beberapa genotip cabai di India dan
membandingkan kadar vitamin C pada cabai hijau dan cabai merah (Tabel 2). Dari
hasil penelitian terlihat genotif yang berbeda memiliki kandungan vitamin C
yang berbeda. Hal ini terjadi karena perbedaan genetik dan perbedaan fisiologis
masing-masing tanaman sehingga kemampuan memproduksi vitamin C juga berbeda.
Kisaran vitamin C dari 24 sampel cabai dengan genotif yang berbeda yaitu pada
cabai hijau berkisar 26,67- 112,00 (mg/100g FW) dan pada cabai
merah berkisar 45,33-317,33 (mg/100g FW). Dari hasil penelitian tersebut
terlihat cabai merah memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi
dibandingkan cabai hijau.
Tabel 2. Kandungan Vitamin Cpada Beberapa Genotif
Cabai
|
Genotypes
|
Ascorbic acid (mg/100g
FW)
|
|
|
Green
|
Red
|
|
|
2011/CHIVAR-1
|
56.00
|
290.67
|
|
2011/CHIVAR-2
|
112.00
|
234.67
|
|
2011/CHIVAR-3
|
56.00
|
317.33
|
|
2011/CHIVAR-4
|
64.00
|
304.00
|
|
2011/CHIVAR-5
|
53.33
|
157.33
|
|
2011/CHIVAR-6
|
77.33
|
208.00
|
|
2011/CHIVAR-7
|
58.67
|
168.00
|
|
2011/CHIVAR-8
|
53.33
|
152.00
|
|
2011/CHIVAR-9
|
74.67
|
242.67
|
|
KA-2(C)
|
29.33
|
45.33
|
|
LCA-334(C)
|
40.00
|
152.00
|
|
UTKAL AVA(L.C)
|
34.67
|
96.00
|
|
2012/CHIVAR-2
|
58.67
|
130.67
|
|
2012/CHIVAR-3
|
53.33
|
61.33
|
|
2012/CHIVAR-4
|
101.33
|
128.00
|
|
2012/CHIVAR-5
|
58.67
|
98.67
|
|
2012/CHIVAR-6
|
48.00
|
50.67
|
|
2012/CHIVAR-8
|
48.00
|
93.33
|
|
2012/CHIVAR-9
|
37.33
|
53.33
|
|
2013/CHIVAR-1
|
34.67
|
48.00
|
|
2013/CHIVAR-2
|
26.67
|
64.00
|
|
2013/CHIVAR-3
|
37.33
|
101.33
|
|
2013/CHIVAR-4
|
34.67
|
64.00
|
|
UTKAL RASHMI(L.C.)
|
37.33
|
85.33
|
Sumber
: Pradhan K, et.al (2018)
Selama
penyimpanan cabai, terjadi penurunan kandungan vitamin C. Penurunan kandungan
vitamin C sudah terlihat pada penyimpanan 3 hari dan 7 hari. Suhu penyimpanan
juga berpengaruh terhadap kadar vitamin C cabai. Hal ini sesuai dengan penelitian Safaryani,
dkk. (2007) tentang pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar vitamin C
brokoli (Brassica oleracea L) yang memperoleh hasil bahwa suhu dan lama
penyimpanan berpengaruh terhadap penurunan kandungan vitamin C. Budiarti, A dan D.A.E Kurnianungrum (2015)
melakukan penelitian tentang pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap
kandungan vitami C Cabai Merah. Hasil yang diperoleh lama penyimpanan
berpengaruh terhadap vitamin C cabai tetapi suhu penyimpanan tidak menunjukkan
pengaruh secara signifikan. Grafik Penurunan Kandungan Vitamin C selama
penyimpanan dapat dilihat pada Gambar 1. Penurnan kandungan Vitamin C selama
penyimpanan disebabkan karena vitamin C sangat peka terhadap cahaya, panas, dan
enzim yang menyebabkan vitamin C pada cabai teroksidasi selama penyimpanan.

Gambar 2. Grafik pengaruh suhu dan
lama penyimpanan terhadap kandungan vitamin C cabai merah (sumber : Budiarti, A
dan D.A.E Kurnianungrum,2015)
3.2 Kandungan
Vitamin C pada Produk Olahan Cabai
Berbagai olahan cabai sudah banyak
diproduksi. Cabai diolah untuk disversifikasi produk bahan pangan dan untuk
mengurangi kerugian saat kelimpahan cabai pada musimnya. Cabai yang mudah rusak
harus mendapatkan penanganan maupun mengolahan untuk memperpanjang umur simpan
cabai dan mempertahankan nutrisi cabai. Beberapa olahan cabai yang dapat
diproduksi adalah cabai kering, manisan cabai dan saus cabai. Selama pengolahan
ada banyak treatment yang diberikan yang dapat menurunkan kadar vitamin C pada
cabai karena vitamin C merupakan vitamin yang mudah rusak, larut air dan mudah
teroksidasi.
A. Cabai
Kering
Anoraga, et.al (2018) melakukan penelitian
tentang pengaruh pra treatment pada cabai kering. Cabai sebelum dikeringkan
diberikan perlakuan awal yaitu Blank
(B): tanpa perlakuan, Water blanching(WB): cabai direndam dalam air panas pada
suhu 90oC selama 3 menit dan dikeringkan untuk menghilangkan
kelebihan air dan Steam blanching (SB): cabe dikukus menggunakan air mendidih
selama 5 menit. Metode pra-perlakuan yang berbeda menunjukkan penurunan kadar
vitamin C yang berbeda. Cabai yang tidak mendapat perlakuan memiliki kandungan
vitamin C yang lebih tinggi daripada cabai yang di blanching dengan air
memberikan penurunan kadar vitamin C yang paling besar. Penurunan vit. C ini
disebabkan oleh proses perendaman dan pengeringan setelah perendaman. Vitamin C
terlarut dalam air dan pengeringan mengoksidasi vitamin C. Parameter penting
yang mempengaruhi degradasi vitamin C adalah suhu dan
waktu

Gambar 2. Efek dari berbagai metode
pra-perlakukan terhadap kandungan vitamin C
B. Manisan
Cabai Kering
Ramdani, H dan Badru T
(2018) melakukan pengamatan terhadap vitamin C manisan kering cabai merah hasil
penelitian menunjukkan hasil yang bervariasi diantara 2.64 – 9.49 mg 100 g-1
dengan rata-rata sebesar 6.20 mg 100 g-1. Vitamin C akan semakin menurun dengan
meningkatnya pemanasan dan lama pengeringan. Suhu yang semakin tinggi dapat
meningkatkan kecepatan oksidasi vitamin C sehingga jumlah vitamin C yang rusak
karena oksidasi per satuan waktu akan lebih banyak.
C. Saos
Cabai Kering
Saos
cabai adalah saos yang diperoleh dari bahan utama cabai yang berkualitas baik,
yang diolah dengan penambahan bumbu-bumbu dengan atau tanpa penambahan bahan
makanan lain. Wan Bahroni Jiwar Barus dan Mhd. Nuh (2019) melaporkan suhu
perendaman dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap Kandungan Vitamin C.
Kadar vitamin C tertinggi 26.18 mg/100g diperoleh pada perlakuan S1 (suhu
perendaman 60 ˚C) dan terendah 23.85 mg/100g diperoleh pada perlakuan S4 ( suhu
perendaman 90 ˚C). Dan penurunan kadar vitamin C juga dipengaruhi oleh lama
perendaman. Lama perendaman 20 menit menghasilkan kadar vitamin C terendah
yaitu 23,191 mg/100g. Kadar vitamin C pada perlakuan suhu perendaman dan lama
perendaman pada saous cabai kering dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kadar vitamin C pada
Perlakuan Suhu Perendaman Dan Lama Perendaman Pada Saous Cabai Kering
|
Suhu Perendaman
|
Kadar Vitamin C
(mg/100 g)
|
Lama Perendaman
|
Kadar Vitamin C
(mg/100 g)
|
|
60°C
|
26,180
|
5 menit
|
26,603
|
|
70°C
|
25,08
|
10 menit
|
25,520
|
|
80°C
|
24,530
|
15 menit
|
24,310
|
|
90°C
|
23,854
|
20 menit
|
23,191
|
Sumber : Wan Bahroni Jiwar Barus dan Mhd.
Nuh (2019)
Dari beberapa olahan cabai diatas
terlihat proses pengolahan dapat menurunkan kadar vitamin C secara drastis. Hal
ini disebabkan karena selama pengolahan bahan kontak langsung dengan panas.
Vitamin C merupakan vitamin yang paling mudah rusak yaitu sangat larut air dan
mudah teroksidasi karena paparan cahaya dan suhu tinggi.
3.3 Metabolisme
Vitamin C pada Tubuh
Asam
askorbat atau vitamin C memerlukan transporter untuk bisa masuk ke dalam sel
dan melaksanakan fungsinya sebagai vitamin. Asam askorbat sangat bergantung
pada pH fisiologi. Dalam tubuh terdapat istilah siklus askorbat. Mekanismenya
adalah askorbat teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat (DHA), yang diangkut
dengan transporter glukosa (GLUTs) (Vera et al., 1993; Washko et al., 1993;
Rumsey et al., 1997; Corpe et al., 2013). Setelah intraseluler, DHA cepat
direduksi menjadi askorbat. Tu H, et.al (2017) melakukan penelitian tentang
transportasi DHA secara in vivo. Dalam penelitian ini menggunakan bromoAA untuk
menggantikan asam askorbat dalam gulo -/-tikus yang tidak dapat mensintesis
vitamin. Produk oksidasi bromoAA, bromoDHA, tidak diangkut sama sekali pada
transporter glukosa, berbeda dengan produk oksidasi askorbat DHA. BromoAA berfungsi
sebagai sistem kimia untuk transportasi DHA, dengan demikian memungkinkan kami untuk
menguji apakah transportasi DHA memiliki fungsi spesifik in vivo.
Dengan
oksidasi, asam askorbat kehilangan dua elektron dan membentuk DHA. Adaya penambahan
air, DHA bersiklus untuk membentuk hemiketal bisiklik (Tolbert dan Ward, 1982)
(Corpe et al., 2005) (Gbr. 1A, baris atas) .Ketika bromin menggantikan gugus
hidroksil pada karbon keenam, senyawa yang dihasilkan adalah asam
6-deoksi-6-bromo-L-askorbat (bromoAA). Oksidasi bromoAA menghasilkan asam
6-deoksi-6-bromo-dehidroaskorbat (bromoDHA) sebagai produk. Namun, substitusi
brom mencegah siklisasi (Gbr.3A, garis bawah), berbeda dengan konsekuensi
penambahan air DHA (Gbr. 3A, baris atas). Baik asam askorbat dan bromoAA
diangkut oleh transporter askorbat tergantung-natrium (SVCT), yang tidak transportasi
DHA (Tsukaguchi et al., 1999; Daruwala et al., 1999; Corpeet al., 2005). Ketika
askorbat dioksidasi menjadi DHA, ia diangkut dengan difasilitasi transporter
glukosa, seperti DHA dan glukosa memiliki struktur yang sama (Gambar 3 garis
bawah) (Corpe et al., 2005). Namun, karena bromo DHA tidak bersiklus, senyawa
ini tidak diangkut GLUTs (Corpe et al., 2005). Oleh karena itu, bromoAA khusus
untuk askorbat hanya transportasi. Dengan bromoAA in vivo, transportasi
bromoDHA oleh GLUTs tidak terjadi, dan fungsi askorbat yang hanya digunakan DHA
transportasi bisa ditemukan.

Gambar.
3. Bromoascorbate (BromoAA) sebagai zat kimia untuk asam dehydroascorbic, dan
kelangsungan hidup tikus gulo-/-yang dibesarkan dengan bromoAA. (A.) Jalur
struktural oksidasi askorbat menjadi asam dehydroascorbic (DHA), dan
bromoascorbate (asam bromoascorbic, bromoAA) menjadi asam dehydrobromoascorbic
(bromoDHA). (B). kurva kelangsungan hidup tikus Kaplan-Meier dari tikus gulo -
/ - (dari 10 minggu) kehabisan askorbat atau ditambah dengan 1 g / L bromoAA
dalam air minum setiap hari selama 9 bulan. N = 10 tikus per grup.
IV. KESIMPULAN
Cabai
adalah salah satu sumber vitamin C. Cabai mengandung vitamin C yang cukup
tinggi dan dapat digunakan sebagai antioksidan. Selama pengolahan, terjadi
penurunan kadar vitamin C pada cabai. Dalam metabolismenya, asam askorbat
teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat (DHA), yang diangkut dengan
transporter glukosa (GLUTs) untuk bisa masuk ke dalam sel dan berfungsi sebagai
asam askobat di dalam sel. Mekanisme ini dinamakan siklus askorbat.
V. REFERENSI
Anoraga SB, I
Sabarisman and M Ainuri. 2018. Effect of different pretreatments on dried
chilli (Capsicum annum L.) quality.
International
Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy IOP Publishing. IOP Conf.
Series: Earth and Environmental Science 131. doi
:10.1088/1755-1315/131/1/012014.
Barus WBJ, M Nuh1.2019.Pengaruh
suhu dan lama perendaman terhadap mutu saos cabai kering. Agriland Vol. 7, hal
17-21.
Budiarti A dan DAE
Kurnianingrum.2015.Pengaruh Suhu Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kandungan
Vitamin C Dalam Cabai Merah (Capsicum annuum. L) Dan Aktivitas
Antioksidannya. Prosiding Seminar Nasional Peluang Herbal Sebagai Alternatif
Medicine. Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim.
Pradhan K, A
Nandi, A Das, N Sahu, N Senapati, SP Mishra, A Patnaik and G
Pandey.2018.Quantification of Capsaicin and Ascorbic Acid Content in Twenty
Four Indian Genotypes of Chilli (Capsicum annuum L.) by HPTLC and Volumetric
Method. Int.
J. Pure App. Biosci. 6 (1): 1322-1327. DOI: http://dx.doi.org/10.18782/2320-7051.5791.
Ramdani H,
BTamam.2018. Optimasi
Suhu dan Waktu pada Proses Pengeringan Manisan Cabai Merah (Capsicum annuum
L.) Menggunakan Tunnel Dehydrator. Comm. Hort. J, Juni 2018, 2(2):17-21.
DOI : http://dx.doi.org/10.29244/chj.2.2.17-21.
Tu H, Y Wanga, H
Li, LR Brinster, M Levine. 2017.Chemical Transport Knockout for Oxidized
Vitamin C, Dehydroascorbic Acid, Reveals Its Functions in vivo. EBioMedicine 23
(2017) 125–135. http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/).
Komentar
Posting Komentar